Kamis, 17 November 2016

Good Morning All

            Berada jauh darimu membuatku tau arti sebuah kerinduan, itulah kata-kata yang bisa aku ungkapkan untuk 2 orang adik yang aku rindukan, waktu lebih kurang 10 hari untuk tidak bisa berjumpa dengannya, mungkin orang bisa berkata itulah waktu yang paling singkat untuk tidak bisa menjumpai seseorang yang dia sayang ataupun seseorang yang selalu didekatnya ataupun buat hari-harinya terasa lebih lengkap akan kehadirannya, namun itu berbanding terbalik dengan ku, waktu 10 hari adalah waktu yang begtu lama untuk tidak bisa berjumpa dengannya.
          Disini aku hanya bisa menunggu waktu untuk bisa berjumpa dengan 2 orang adik yang begitu aku sayangi, rindu dek... untuk saat ini hanya kata-kata itu yang bisa aku ungkapkan untuk kerinduan yang ingin berjumpa dengannya...


Fenomrena Fisik(Lingkungan Alam) Dan Fenomena Manusia(Lingkungan Sosial)


            Permukaan merupakan tempat hidup berbagai makhluk hidup. Menurut ilmu lingkungan permukaan bumi adalah ekosistem yang sangat luas dan dapat dibedakan atas sejumlah ekosistem yang lebih kecil.Didalam ekosistem terdapat interaksi antara makhluk hidup dengan alam lingkungannya.Ilmu yang mempelajari hubungan-hubungan interaksi tersebut dikenal dengan istilah ekologi.
            Istilah ekologi,pada awalnya di perkenalkan oleh seorang ahli biologi jerman,yang bernama Ernest Haekal.Menurut Haekal,ekologi berasal dari kata oikos yang artinya rumah tangga dan logos yang beraarti pengetahuan. Jadi ekologi,adalah ilmu pengetahuan mengenai hubungan timbale balik yang dinamis antara makhluk hidup dengan rumah tangga lingkungannya.
            Unsur atau komponen lingkungan hidup sebagaimana telah disinggung diatas secara lebih rinci terdiri atas:
a.       Komponen lingkungan fisik(abiotic environment)seperti tanah,batuan,dan iklim.
b.      Komponen biologi (biotic environment),seperti tumbuhn,hewan dan jasad renik.
c.       Sumberdaya manusia dan sumberdaya batuan sebagai hasil karya dan karsa manusia sebagai lingkunan budaya(cultural environment)
            Walaupun hubungan antara manusia dan alam lingkungannya sangat erat,tetapi para ahli berbeda pendapat terhadap pola hubungan tersebut.Satu pihak ada yang berpendapat bahwa perilaku manusia sangat di tentukan oleh pengaruh alam lingkungannya,tetapi pihak lain sebaliknya yaitu justru manusia sangat dominan dalam mempengaruhi atau merubah keadaan alam.
            Carl Ritter seorang ilmuwan geografi yang menamakan aliran fisis determinis.Ia menyatakan bahwa manusia adalah cermin dari keadaan buminya.Segala hal yang menyangkut hidup manusia ditentukan oleh alam.Hasil karyanya adalah Die Ernkunde suatu deskripsi regional dari seluruh dunia.
           


            Aliran fisis determinis,didukung oleh Friederich Ratzel (1884-1904) seorang tokoh Geografi Jerman yang menyatakan bahwa alam(memang sangat) menentukan kehidupan manusia.Para pendukung aliran fisis determenis selalu mengatakan bahwa keadaan alam suatu daerah seperti cuaca,iklim,persediaan air,jenis tanah,jenis batuan,flora dan fauna, dimana manusia itu berada akan menentukan sifat lahir dan rohaninya.
            Hubungan interaksi antara manusia dengan lingkungan alamnya berada di yakini mempengaruhi kebudayaan manusia.Oleh karena lingkungan alam berbeda maka kebudayaan tercipta juga akan berbeda satu dengan yang lainnya.Bronislaw Malinowski dalam Mutakin dan Pasya(2002)Mengatakan bahwa lahirkan kebudayaan tercipta karena tuntunan kebutuhan dasar yang direspon oleh budaya manusia.Respon budaya ini sebagai suatu tanggapan terhadap kebutuhan-kebutuhan yang dialami setiap manusia semenjak kemunculannya.
            Adapun kebutuhan dasar akan mendapat respon budaya dari setiap masyarakat, menurut Mutakin dan Pasya(2002) adalah sebagai berikut
a.       Respon budaya terhadap kebutuhan yang menunjang terhadap kehidupannya yang melahirkan mata pencaharian.Dari adanya tuntunan kebutuhan lahirlah mata pencaharian yang paling sederhana yaitu berburu dan meramu,pertanian lahan kering,pertanian lahan basah, dan perikanan yaitu nelayan.
b.      Kebutuhan dasar kedua menyangkut keinginan untuk melanjutkan keturunan yang pada dasarnya terjadi pada manusia,tetapi di setiap masyarakat  menanggapinya dengan perkawinan yang di sesuaikan denagn nilai norma dan yang berlaku beserta system kekerabatannya.
c.       Kondisi alam di berbagai belahan bumi walaupun umum nampaknya sama, tetapi setiap masyarakat yang berbeda di berbagai daerah dan kebudayaannya akan menanggapi lingkungannya sendiri baik yang berada di tepi pantai ,dataran rendah, maupun pengunungan,bahkan mereka yang berada di daerah yang curah hujannya yang tinggi atau di daerah yang curah hujannya rendah atau daerah yang memiliki suhu udara yang tinggi atau di daerah yang suhunya rendah.
d.      Manusia tidak akan selamanya terhindar dan kecelakaan yang mungkin menimpanya,karena itu mereka harus menjaga keselamtannya sendiri.
e.       Setiap manusia semenjak dilahirkan sampai menjadi dewasa mengalami pertumbuhan, setiap pertumbuhannya memerlukan pendidikan dan latihan yang sesuai dengan perkembangan kejiwaannya.
f.       Selanjutnya setiap masyarakat memiliki cara tersendiri untuk menjadi sehat, baik dalam hal mengolah makanan,kebersihan ingkungan,ataupun pengetahuan,tentang pengobatan.Dengan demikian,bahwa setiap masyarakat akan menanggapi kebutuhan untuk shat sebagai suatu pengetahuan yang mungkin tidak dimiliki oleh masyarakat lain.
            Kebutuhan yang dapat respon budaya dan setiap masyarakat tidak lepas dan kondisi lingkungan alam dimana setiap masyarakat berada, karena setiap kebutuhan tersebut akan selalu dihadapkan pada lingkungan sekitarnya.Hal ini sejalan dengan perkembangan budaya pada setiap masyarakat yang bersangkutan.Demikianlah adanya fenomena alam sosial dan manusia yang memunculkan kebudayaan yang berbeda-beda antara masyarakat yang satu dengan yang lainnya.

















DAFTAR PUSTAKA
Abdurachim,I.1986.Geografi Latar Belakang Pemikiran dan Metode.Bandung.Penerbit Bina Budhaya
Bintarto,R dan Hadisurmarno,S.1987.Metode Analisa Geografi.Jakarta.LP3ES
Bintarto,R.1987.Urbanisasi dan permasalahannya.Jakarta.Ghalia Indonesia

Dinamika Negara Kebangsaan Indonesia



KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan hidayahnya sehingga makalah ini dapat kami susun dengan baik. Shalawat dan salam semoga tetap terlimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW yang telah membawa manusia menuju jalan kebenaran.
            Kami menyadari bahwa makalah ini dalam penyusunan jauh dari sempurna, baik dari segi penyusunan, bahasan, atau pun penulisannya. Oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun sebagai acuan dalam bekal pengalaman bagi kami untuk lebih baik di masa yang akan datang.
            Semoga makalah ini memberikan informasi tentang Dinamika Negara Kebangsaan Indonesia. Serta dapat memberikan wawasan yang lebih luas dan peningkatan ilmu pengetahuan kepada pembaca.









                                                                                                         Bangkinang, 9 September 2016

Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Dinamika Indonesia sebagai suatu bangsa banyak membawa perubahan dalam berbagai aspek, yang membawa perubahan yang sifatnya positif atau pun yang bersifat negatif. Karena pada hakikatnya bahwa dinamika suatu bangsa itu pastilah terjadi karena zaman pun akan terus dan selalu berkembang, sehingga setiap bangsa pastilah terpengaruh dan terbawa dalam perubahan zaman yang terjadi.
Namun jika kita melihat kondisi bangsa Indonesia saat ini, Indonesia dengan potensi baik sumber daya alam dan sumber daya manusia yang begitu baik justru mengalami suatu kemunduran. Konflik-konflik masih sering terjadi dan seperti menjadi agenda rutin bangsa Indonesia.
B.     Rumusan Masalah
a.       Jelaskan pengertian dinamika negara kebangsaan Indonesia?
b.      Jelaskan sejarah dinamika negara kebangsaan Indonesia?
c.       Sebutkan sembilan dinamika kehidupan Negara bangsa Indonesia pada masa sentralisasi, khususnya pada masa orde baru?
C.    Tujuan
Sebagai warga negara Indonesia yang baik sangat pentinglah bagi kita untuk mengetahui dan memahami dinamika negara kebangsaan Indonesia. Untuk memberikan pemahaman itulah maka makalah ini kami sajikan.







BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian dinamika kebangsaan indonesia
Dinamika adalah sesuatu yang mengandung arti tenaga kekuatan, selalu bergerak, berkembang dan dapat menyesuaikan diri secara memadai terhadap keadaan. Dinamika juga berarti adanya interaksi dan interdependensi antara masyarakat dengan masyarakat lain dalam sebuah negara secara keseluruhan. Keadaan ini dapat terjadi karena selama ada masyarakat, semangat kelompok masyarakat terus-menerus ada dalam masyarakat itu, oleh karena itu masyarakat negara tersebut bersifat dinamis, artinya setiap saat masyarakat yang bersangkutan dapat berubah.

B.     Dinamika kebudayaan dan kebangsaan Indonesia
Indonesia merupakan negara kepulauan dengan jumlah pulau yang begitu banyak, dan secara geografis letak Indonesia  berada dalam posisi yang strategis karena berada dalam jalur perdagangan dunia. Dan di sadari atau tidak bahwa dengan masuknya para pedagang asing ke Indonesia pastilah mampu membawa suatu perubahan di Indonesia.
Namun jika kita melihat kondisi bangsa Indonesia saat ini, Indonesia dengan potensi baik sumber daya alam dan sumber daya manusia yang begitu baik justru mengalami suatu kemunduran. Konflik-konflik masih sering terjadi dan seperti menjadi agenda rutin bangsa Indonesia  dengan adanya gerakan pemberontakan yang terjadi di berbagai daerah. Meskipun ini bukanlah hal yang baru bagi bangsa Indonesia, kalau kita melihat pada zaman orde lama ada berbagai macam pemberontakan gerakan 30 september, di susul oleh DI/TII, GAM, RMS, dan lainnya.

C.    Sembilan dinamika kehidupan negara bangsa Indonesia pada masa sentralisasi, khususnya pada masa orde baru sebagai berikut:
1.      Pembangunan ekonomi dalam artian pertumbuhan ekonomi berjalan baik. Pemerintah orde baru berhasil memperbaiki situasi ekonomi dari keterpurukan pada akhir masa orde lama, ditandai oleh pertumbuhan ekonomi yang pesat, menaiknya pendapatan perkapita penduduk dan menurunnya angka kemiskinan secara berarti (Penjelasan lebih jauh, baca Booth 2000).
2.      Walaupun pertumbuhan ekonomi tinggi dan angka kemiskinan menurun, pemerataan ekonomi tidak terjadi. Hal yang terjadi adalah ketimpangan ekonomi yang besar. Terjadi ketimpangan ekonomi antara perkotaan dengan perdesaan (Booth 2000, hal. 75-77), dan antara pulau jawa dengan luar pulau jawa.
3.      Ciri yang menonjol lain semasa sentralisasi utamanya semasa orde baru adalah terciptanya keamanan yang kuat, ditandai oleh beberapa hal. Pertama, konflik-konflik agraria tidak banyak terjadi dan apabila terjadi hanya dalam waktu yang tidak lama. Akibatnya, para investor perkebunan, pertambangan  aman dari gangguan penduduk tempatan. Kedua, konflik antara buruh dengan perusahaan juga jarang terjadi, sehingga perusahaan aman dari gangguan buruh. Ketiga, konflik SARA hampir tidak terjadi. Pada saat itu terkesan terjadi integrasi yang baik. Akan tetapi, benarlah kritikan para ahli pada masa itu bahwa ketiadaan konflik yang berarti hanyalah integrasi semu. Terbukti ketika negara lemah pada tahun 1998, konflik-konflik menjamur bak cendawan tumbuh setelah musim penghujan. Ternyata keamanan yang tercipta pada zaman orde baru adalah situasi yang dipaksakan dengan kekerasan yang dilakukan oleh tentara dan polisi, bukan atas kesepakatan bersama dan dengan kesukarelaan.
4.      Pada masa sentralisasi, perencanaan pembangunan terpusat di pemerintah pusat dengan kekuatan yang lemah dari pemerintah kabupaten/kota dan provinsi terhadap kebijakan yang dibuat. Akibatnya, muncul kebijakan pemerintah yang tidak responsif terhadap situasi lokalitas. Hal ini disebut oleh Schiler (2002, hal. 4), seorang ahli politik lokal dari australia, sebagai ketidakpekaan yang tersentralisasi. Formula-formula pembangunan semua mengalir dari pusat ke daerah-daerah. Tidak berarti pemerintah daerah pasif, tetapi kreativitas aparatur pemerintah lokal hanya terbatas pada implementasi kebijakan yang telah ditetapkan oleh pemerintah pusat (Lih. Schiller 1996 dan Hidayat 2000). 
5.      Pada masa sentralisasi, kontrol sosial oleh pemerintah lokal terhadap situasi lokal lemah. Kontrol pada dasarnya berada ditangan instansi-instansi pemerintah pusat.
6.      Di daerah terbuka hanya sedikit kesempatan bagi orang-orang awam untuk mengekspresikan perasaan mereka tentang kesenjangan kelas, agama dan etnisitas. Hal ini disebabkan oleh penyampaian aspirasi mereka diredam dengan kekerasan oleh pemerintah.
7.      Terjadi pengikisan lokalitas secara terstruktur. Cara-cara pengelolaan kehidupan lokalitas tidak diakui dan bahkan disingkirkan dengan strategi homogenisasi, upaya penyeragaman di seluruh daerah. Penerapan Undang-undang Pemerintah Daerah No.5/1979 adalah salah satu contoh penyeragaman tersebut. Diberlakukannya penyeragaman organisasi pegawai negari (KORPRI), Karang Taruna sebagai organisasi pemuda, PKK sebagai organisasi perempuan dan P3A sebagai organisasi petani pengguna air dengan struktur yang sama merupakan contoh-contoh lain dari penyeragaman tersebut. 

8.      Ciri lain era sentralisasi yaitu, lemahnya masyarakat sipil. Tidak ada perlawanan yang berarti dari rakyat atas kebijakan dan perbuatan aparatur negara. Walaupun terjadi gejolak pada awal 1990an, gejolak tersebut sebentar dan tidak menggoyahkan kekuasaan pemerintah. Sepertinya semua orang tidak peduli terhadap pemerintah. Media menjadi penyalur informasi dari pemerintah dan organisasi masyarakat sipil tidak berkembang. Walaupun berkembang pekerjaan mereka lebih terfokus kepada pembangunan dan penyaluran bantuan (lih Eldrige 1999). Memakai istilah Schiller (2001), negara pada saat itu menjadi penentu daya. Dalam situasi seperti ini, tercipta suasana yang sangat aman bagi pemerintah.
9.      Ciri yang lain adalah pekerjaan aparatur pemerintah berkualitas rendah. Pada masa itu muncul sinyalemen bahwa pekerjaan aparatur pemerintnah ABS (Asal Bapak Senang) yang berarti pekerjaan dilakukan untuk memuaskan atasan bukan rakyat sebagai orang yang dilayani. Semua orang hanya berusaha untuk menyenangkan atasan dengan melakukan apapun termasuk apa yang disebut sebagai “menjilat” untuk menyenangkan atasan mereka. Konsekeuensinya, kualitas pelayanan publik dan pembangunan tidak menjadi pertimbangan utama aparatur pemerintah.









BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Dinamika adalah sesuatu yang mengandung arti tenaga kekuatan, selalu bergerak, berkembang dan dapat menyesuaikan diri secara memadai terhadap keadaan. Dinamika juga berarti adanya interaksi dan interdependensi antara masyarakat dengan masyarakat lain dalam sebuah negara secara keseluruhan. Indonesia merupakan negara kepulauan dengan jumlah pulau yang begitu banyak, dan secara geografis letak Indonesia  berada dalam posisi yang strategis karena berada dalam jalur perdagangan dunia. Dan di sadari atau tidak bahwa dengan masuknya para pedagang asing ke Indonesia pastilah mampu membawa suatu perubahan di Indonesia.
B.     Saran
Dalam penulisan makalah ini, kami sadar bahwa masih banyak kekurangan di dalamnya dan jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun kami harapkan kepada pembaca agar ke depannya lebih baik lagi.









DAFTAR PUSTAKA
Majelis Diklitbang PP Muhammadiyah. Pendidikan Kewarganegaraan. Yogyakarta: Lembaga Penelitian&Pengembangan Pendidika UNY
MGMP PKN, Team. 2007. Pendidikan Kewarganegaraan. Boyolalai:
CV Mustika Prima.                              
Adib. Mohammad. Dkk. 2014. Pendidikan pancasila dan kewarganegaraan




































RESUME

            Dinamika negara kebangsaan Indonesia sebagai suatu bangsa yang banyak membawa perubahan dalam berbagai aspek, baik perubahan yang positif maupun perubahan yang negatif. Indonesia merupakan negara kepulauan yang jumlah pulaunya banyak dan secara geografis letak Indonesia berada dalam jalur perdagangan dunia. Dengan masuknya para pedagang asing ke Indonesia  pastilah mampu membawa suatu perubahan di Indonesia.
            Namun jika lihat kondisi Indonesia saat ini, Indonesia merupakan potensi sumber daya alam yang terbaik dan sebaliknya Indonesia merupakan sumber daya manusia yang justru mengalami kemunduran atau yang kurang baik.

TANGGAPAN
            Indonesia merupakan salah satu negara yang letaknya dijalur perdagangan dunia, dengan letak Indonesia yang berada dalam perdagangan dunia akan membawa Indonesia semakin maju, Namun sebaliknya Indonesia mengalami kemunduran pada sumber daya manusia. Konflik-konflik pun terjadi dimana-mana seakan menjadi agenda rutin setiap tahun bagi bangsa Indonesia, meskipun ini bukanlah hal yang baru bagi bangsa Indonesia.

PERTANYAAN
Bagaimana cara pemerintah menghadapi konflik-konflik bangsa indonesia yang menjadi agenda rutin setiap tahun bagi bangsa Indonesia?






DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR............................................................................................   i
DAFTAR ISI...........................................................................................................   ii
BAB I PENDAHULUAN......................................................................................   1
A.    Latar Belakang Masalah..............................................................................   1
B.     Rumusan Masalah........................................................................................   1
C.     Tujuan..........................................................................................................   1
BAB II PEMBAHASAN.......................................................................................   2
A.    Pengertian Dinamika Kebangsaan...............................................................   2
B.     Dinamika Kebudayaan................................................................................   2
C.     Sembilan Dinamika Kehidupan Negara Bangsa Indonesia, Khususnya
Pada Masa Orde Baru..................................................................................   3
BAB III PENUTUP................................................................................................   6
A.    Kesimpulan..................................................................................................   6
B.     Saran............................................................................................................   6
DAFTAR PUSTAKA